Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

hotradero.multiply.com

Lusa lalu, telepon selular saya berdering dan seorang teman mengajak saya untuk menjadi panelis penilai calon presiden pada sebuah acara di TV. Sejenak ragu, namun akhirnya saya iya kan.

Pukul 19.30 saya menuju stasiun TV tersebut, yang terletak kompleks pertokoan Senayan City. Ada tawaran untuk makan malam, tapi saya sudah keburu makan di rumah dan lebih sibuk mencari dan mencatat angka-angka perekonomian nasional. Ternyata ada empat calon presiden yang hadir, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Rizal Mallarangeng, Fajrul Rahman, dan Ratna Sarumpaet.

Sebagai panelis, saya mengambil bagian menilai dan menguji capres terkait soal ekonomi bersama dengan Mas Ade (Komunikasi UI), Indra J. Piliang (CSIS Politik), Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Berempat kami "menguji" para calon presiden.

Menguji wawasan ekonomi seorang calon presiden - menurut saya amat penting. Dan atas hal itu saya merasa beruntung. Kenapa? Karena ekonomi selalu menyangkut pilihan - dan dalam skala nasional - tidak ada pilihan yang mudah. Semua pilihan ekonomi adalah sulit. Semata-mata karena setiap pilihan memiliki konsekuensi biaya. Ada ongkos yang harus ditanggung. Dan kesadaran akan biaya itu - yang membedakan antara seorang calon presiden sungguhan dan mereka yang main-main.

Pada pembukaan acara - dua pihak berdebat: Rizal Mallarangeng dan Yusril Ihza Mahendra. Saya membuka dengan pertanyaan tentang pilihan pemerintahan: Pemerintahan Besar (Big Government) versus Pemerintahan Kecil (Small Government). Kedua capres memilih Small Government. Tetapi ketika saya katakan bahwa pengeluaran rutin terbesar pemerintah RI adalah membayari PNS (Pegawai Negeri Sipil) - Rizal Mallarangeng sepertinya bisa membaca jebakan yang saya pasang, dan menyajikan pendapat bersifat netral soal jumlah PNS dan performa kerja para PNS (kalau bisa disebut bekerja...). Yusril terjebak. Ia mengatakan bahwa mengurangi jumlah PNS tidak bisa secara dadakan -- tetapi harus berkala lewat program pensiun normal. Ini jelas kontradiktif dengan dukungannya terhadap Small Government. Seberapa banyak sih jumlah PNS dan pengeluaran pemerintah atas PNS - yang bisa berkurang semasa 5 tahun masa jabatan presiden?? Tentu tidak banyak.

Pada kesempatan berikutnya saya juga menekan calon presiden soal infrastruktur Indonesia yang sedemikian payah kuantitas (dan kualitasnya). Rizal dengan cepat menyambar pertanyaan saya dan menekankan fakta yang ia miliki - serta apa yang menurutnya harus dikerjakan. Sementara Yusril (kembali) terjebak pada masalah status hukum pembebasan tanah... (padahal yang saya tekankan adalah SELURUH proyek infrastruktur - bukan semata jalan tol...).

Anda tentu bisa paham skor seperti apa yang saya berikan antara Yusril dan Rizal.

====

Sesi debat calon presiden antara Fajrul Rahman dan Ratna Sarumpaet tidak menarik lagi. Keduanya terlalu mirip satu sama lain. Keduanya terjebak pada keinginan untuk populer (at all cost). Mulai dari ngomog anti-neolib, nasionalisasi Freeport, Exxon-Cepu, Natuna -- sampai dengan mengemplang utang luar negeri dengan alasan banyak utang haram.

Saya menyentil nafsu menasionalisasi itu dengan fakta bahwa nasionalisasi sudah pernah dilakukan jaman Bung Karno - dan ternyata semua perusahaan Belanda yang dinasionalisasi keadaannya tidak bertambah bagus. Yang ada tambah jeblok. Perusahaan tersebut menjadi sarang korupsi dan sumber dana politik kotor. Fajrul berkilah bahwa korupsi adalah masalah terpisah - dan ia sangat yakin nasionalisasi tidak jadi masalah asal kita bisa membersihkan korupsi... (lalu apakah kompetensi manajemen tidak penting. Apa iya SDM BUMN kita lebih bagus daripada SDM sektor swasta???)

Untuk soal penghapusan / penundaan utang luar negeri -- saya menyindir keduanya dengan mengatakan bahwa dengan mengemplang utang luar negeri - itu sama saja dengan mencuri duit orang. Kita boleh saja kecurian, tapi bukan berarti kita boleh mencuri. Masak presiden menyuruh mencuri? Keduanya naik pitam karena saya sebut begitu. Ratna sempat mengatakan bahwa Nigeria bisa dapat diskon utang besar. Mengapa kita tidak?

Saya menimpali bahwa Nigeria memperoleh diskon utang karena negara itu merundingkannya dalam kerangka Paris Club. Presiden Obassanjo merelakan dua menterinya dipenjara karena terbukti korupsi -- demi menunjukkan keseriusan pemerintah Nigeria. Itu sebabnya Nigeria dapat pemotongan utang.

Indonesia yang telah menyatakan keluar dari bantuan IMF jelas sudah tidak bisa lagi masuk ke Paris Club - melainkan masuk ke London Club (utang komersial). Meminta skema Paris Club, padahal sudah ada di London Club - jelas hanya akan menjadi bahan tertawaan komunitas finansial dunia. Toh Indonesia sendiri yang dulu berkeras keluar dari skema bantuan IMF. Harus konsekuen dong...

Di sisi lain, utang luar negeri terbesar Indonesia adalah kepada Jepang - dengan tingkat bunga yang sangat rendah dan tenor sangat panjang. Mengemplang utang Jepang - sama dengan bunuh diri secara ekonomi. Mengapa? Itu berarti menikam pihak yang telah sedemikian longgar terhadap bunga. Sikap kurang ajar. Lagipula karena Jepang adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan sumber surplus dagang - meminta Jepang memotong utang berkonsekuensi hancurnya hubungan dagang kita.

"Usulan" Ratna Sarumpaet menunda utang - juga sama bodohnya. Apa iya utang yang ditunda dapat membuat total utang kita menurun? Tentu tidak. Setiap penundaan hanya berarti utang kita meningkat (dan toh tetap harus dibayar).

Dengan porsi utang luar negeri terhadap PDB sebesar sekitar 36% -- posisi Indonesia jauh lebih baik daripada pemerintah Inggris dan Amerika misalnya, yang posisi utangnya 60% terhadap PDB. Jepang saja tingkat utangnya 120% PDB.

Tingginya tingkat pertumbuhan PDB menjadi alasan bahwa utang bersifat relatif. Sejauh PDB kita bisa tumbuh lebih cepat daripada utang kita -- maka ekonomi kita makin sehat dan kuat. Cara paling jitu untuk mengendalikan utang adalah dengan cara bertumbuh secepat-cepatnya. Untuk apa mengurangi utang kalau ternyata malah membuat ekonomi tidak tumbuh, atau malah ambrol?

Utang itu membeli waktu. Membeli kesempatan. Ini penting bagi negara dengan penduduk muda seperti Indonesia.

====

Sangat jelas bahwa pameo "It's the economy, stupid" yang dulu dicanangkan dan mendorong kemenangan Bill Clinton di Amerika - ternyata juga bisa menjadi tolok ukur dana menilai para calon presiden Indonesia.

Top Job sebagai Presiden RI - mensyaratkan kemampuan mengambil pilihan-pilihan sulit dan membayar harga atas setiap pilihan. Tidak semua pihak bisa puas, tetapi pilihan memang harus diambil.

Pilihan.
Itulah ekonomi sesungguhnya...

29 CommentsChronological   Reverse   Threaded
anomk wrote on Jul 31, '08
ratna sarumapet dan fadjrul rachman memang hanya sekedar aktivis dengan api yang berkobar-kobar.. that's all..
hagihagi wrote on Jul 31, '08
gw link ke milis jaketbiru90 ya Tak..
nuhun..
syaltout wrote on Jul 31, '08
Wah, tulisannya bagus banget Bang...
Aku link di blogku yaa...
nilora wrote on Jul 31, '08
Ya senang akhirnya bung dapat kesempatan tuk jadi panelis penilai calon presiden ... :) ya mereka harus belajar banyak rupanya... info bagus tuk kami yg jauh dari negeri sendiri. thanks.
udintpi wrote on Jul 31, '08
makin ketauan siapa yang maju cuma modal nekat, Tak. padahal ini negara, bukan panggung sandiwara atau tempat demo di ITB.
hotradero wrote on Jul 31, '08
Sebenarnya saya sekadar menumpahkan unek-unek. Indonesia sudah pernah punya presiden ex-tentara, insinyur, kyai, dan bahkan ibu rumah tangga. Semua modalnya popularitas. Popularitas itu datang dan pergi...

Di sisi lain, tugas sebagai presiden (bila terkait dengan ekonomi) - justru harus berani untuk tidak populer. Itu tantangannya. Itu yang menarik. Dan menurut saya hanya yang seperti itu bisa secara substansial mengubah Indonesia menjadi lebih baik.
motulz wrote on Jul 31, '08
Wah setuju dan menarik sekali.
Perihal nasionalisasi ini emang polemik baru bermata ganda. Di sisi lain dinilai anti nasionalisme di sisi lain memupuk kesuburan korupsi tingkat tinggi.

BUMN ini secara profesionalisme memang selalu akan jadi dilema. Memasang para petinggi2 dan pejabat hanya sebagai "jualan nama" dan bagi-bagi jatah. Sudah banyak bukti perusahaan milik negara itu hanya jadi sumur uang bagi para pejabat negara yang maunya cuma dpt deviden.

Ini jelas berhubungan dengan konsep infrastruktur tadi. Bagi para capres memang akan selalu menjadi dilema mengingat kalau-kalau dia kelak menang nanti.. jatah dia bisa hilang akibat konsep yang ia buat sendiri.

Ke masalah popularitas... ini trend sekarang. Selebriti aja bisa jadi bupati hanya karena popularitas. Sementara itu.. debat via TV pun bagian jadi jualan popularitas mereka. Kalau saja saya jadi salah satu panelis penguji bang... saya akan tanya sederhana aja. Misalnya...

"Anda cinta Indonesia? Anda kenal betul Indonesia? Apa nama ibukota Sulawesi Tengah?"

Jadi pertanyaan yang kemungkinan penonton tahu jawabannya dan kemungkinan para capres gak tahu jawabannya. Dengan gitu penonton TV akan tahu betapa lugu dan polosnya capres kita hahahaha...
israrardi wrote on Jul 31, '08
Mantap Bung! Sayangnya semua yang diuji adalah 'para wishful thinkers'. Mudah-mudahan kau punya kesempatan menguji SBY, JK, MS, W, AT, PS: para pemain sesungguhnya...
republic wrote on Jul 31, '08
none of them is my fav. but i guess comparing indonesia to those countries you mentioned could be misleading. the question is: how can we enhance our economic capacity while being burdened by massive debt?

anyway, nice show, tak. i dont think one of them above, and all self-procaimed candidates showing up on tv, would make a good president. i guess we have to hold our breath until 2014.
bookshop wrote on Jul 31, '08
Ada youtubenya gak Pak? :D Lucu nih :D
hotradero wrote on Jul 31, '08
motulz said
"Anda cinta Indonesia? Anda kenal betul Indonesia? Apa nama ibukota Sulawesi Tengah?"
tulz, ini mengingatkan saya pada joke masa kecil:

Pak Guru: "Hai Badu, coba tunjukkan di mana kota Bagansiapi-api!"
Badu: "Saya tidak tahu pak!"
Pak Guru: "Lho katanya kamu bercita-cita jadi saudagar besar - masak tidak tahu di mana kota Bagansiapi-api...?"
Badu: "Saya tidak ingin berdagang ke sana pak!"

hotradero wrote on Jul 31, '08
how can we enhance our economic capacity while being burdened by massive debt?
I think we can increase Indonesian economic capacity by:

- Lowering business cost in Indonesia (cutting red tapes and unnecessary licenses). Lowering business cost means more competition, which in turn means more new companies offering lower prices, more employments, and finally higher consumer's buying power.

- Based on our GDP figures - private sector in Indonesia is about 5 times more efficient than public sector. Less people employed by public sector (with all its red tapes and bureaucracies) will increase private sector leverage in economy.

- Around 62% of Indonesian economy is driven by consumption. This is good (because economy is all about consumption) BUT the paltry investment level of less than 10% and trading volume of around 20% - we missed the opportunity of tapping global investment flood and the meteoric surge of world trade. We missed the main engine of global growth, and end up exporting raw materials instead, which has a very low added value.

Why? Mostly because it's very hard to set up a business here in Indonesia. Let make it easier, sit back, and see what will happen.
hotradero wrote on Jul 31, '08
Sebenarnya itu juga yang saya inginkan.

Lima tahun yang lalu saya sempat kebagian menjadi panelis penguji Jusuf Kalla - tapi karena waktu itu saya masih bodoh dan panelisnya terlalu banyak (15 orang) - semuanya jadi terasa hanya seperti seremonial saja.
abgaduh wrote on Aug 1, '08
Soal utang ini salah satu contoh 'red herring' dalam politik Indonesia -- non-issue yang dijadikan issue karena popular, tapi enggak dipikir matang-matang.

Ratna dan Fajrul -- Anda terlalu murah hati dengan bilang mereka terjebak keinginan untuk populer. Bisa jadi lebih buruk daripada itu: Memang pemahaman mereka soal isu ya hanya sejauh itu saja lho... ;-)
hotradero wrote on Aug 1, '08
abgaduh said
Bisa jadi lebih buruk daripada itu: Memang pemahaman mereka soal isu ya hanya sejauh itu saja lho... ;-)
wah saya membatasi diri saja pada sikap "berprasangka baik"...
imazahra wrote on Aug 1, '08
Aku izin ngelink dan copy paste di MPku ya Bang? Boleh?
robymuhamad wrote on Aug 1, '08
ada tulisan yg sistematis dan komprehensif soal utang indonesia yg bisa saya baca?
nggak usah tulisan yg teknis tapi lebih argumen umum soal bagaimana sebaiknya utang ini disikapi. (memang sudah ada sebagian argumennya disini, tapi saya pengen tau kalo ada yang sudah memikirkan ini dalam2 dan utk konsumsi publik)


ynugroho wrote on Aug 1, '08
menarik sekali ulasannya bang poltak. dan benar, ekonomi (mungkin politik juga) adalah soal pilihan .. ngomong-omong, acara itu ada streamingnya nggak ya? pengin mendengarkan ... :-)
ynugroho wrote on Aug 1, '08
maaf kelewatan baca satu reply anda ttg link.. baru saya lihat ... tkasih.
hotradero wrote on Aug 3, '08
boleh.
hotradero wrote on Aug 3, '08
Hai Roby, saya coba kumpulkan dulu ya... Tetapi setidaknya di website depkeu dan BI saya pernah lihat beberapa paper tentang itu. Depkeu malah punya satu website tersendiri terkait dengan badan manajemen utang luar negeri.
bookshop wrote on Aug 3, '08
Ada youtubenya gak Pak? :D Lucu nih :D
Makasih Pak ! :D
svengenglar wrote on Aug 7, '08
Saya sempat terheran-heran ketika menonton acara tersebut dari link di blognya YIM, siapa hotradero? mantap sekali sepertinya! kenapa saya tidak pernah mendengar sebelumnya? you are going to be very popular, sir!

Halak hita do? Salam kenal Pak, nama saya Bonar, saya harap Anda lebih banyak lagi menulis mengena ekonomi.

Oh ya, bisakah Anda memberikan petunjuk dari mana Anda mendapatkan data-data yang terpapar waktu itu? mungkin sekalian tips dan trik tentang bagaimana mendapatkan data-data ekonomi makro yang akurat.

Thanks a lot.
vivisilvia wrote on Aug 7, '08
Ternyata ada empat calon presiden yang hadir, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Rizal Mallarangeng, Fajrul Rahman, dan Ratna Sarumpaet.
Ehmmmm.. apa gak ada calon lainnya yang lebih menentramkan dan memberi harapan buat bangsa ini yaa
coglok wrote on Aug 12, '08
Halo Bang Poltak, saya juga heran, kok gak pernah dengar nama pak Hotradero,,setau saya cuma pak Poltak..2 hari diruangannya saya sudah bisa menebak,,,wah orang hebat niy....iseng iseng cari nama Bang Poltak di google eh busyettt..terkenal banget. seruangan kok gak sadar ya aku..hehehe...
pak besok kalo bapak, Pak Sandy ama Pak Roslan jago presiden, saya dukung bapak deh.hebat...semangat pak..!
pak nanya dunk, kalau Giro Wajib Minimum harus dinaikkan nantinya sektor riil gimana pak??capital inflownya gimana pak?iklim investasi dan infrastruktur aja gak jelas kayak gini pak,,banyak investor yg lebih memilih ke negara asia lainnya seperti vietnam karena ketidakjelasan indonesia..nah menurut bapak, prioritas pertama pemerintah dan BI untuk mengatasi masalah ini gimana pak??

Embun(didik)
blogari wrote on Aug 19, '08
hmmm... dikopi ah..
lae, saya gulanya satu sendok aja.. jangan pake creamer, please.. V(^-^)V

*pengunjung nekat, qeqeqeqe*
sardjana wrote on May 15, '09
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.